Ada suasana beda di kampus. Entah saya yang aneh atau mungkin kampus yang udah berubah ya. . .
Banyak yang kangen katanya...tapi saya merasakan kok. . .
Sebuah catatan keseharian yang mungkin tidak banyak manfaat bagi pembaca yang budiman semua. Namun saya yakin bahwa coretan yang pembaca anggap seperti ini, sangatlah berarti bagi saya khususnya. Walaupun sangat kecil, saya tetap berdoa pada Allah SWT agar apapun yang saya lakukan diridloi Allah SWT.
Memang benar saya pingin cepat lulus dengan predikat sangat memuaskan. Hal itu yang menjadi pemikiran saya sejak awal aku masuk kuliah. Saya tambah yakin keinginan itu bisa terwujud ketika IP – ku sangat memuaskan. Bahkan sampai semester akhirpun saya hanya sekali mendapat IP kurang dari 3, itupun nyaris 3, yaitu 2,97. pada semester 6, SKS beban yang menjadi syarat kelulusan sudah saya lahap habis. Saya hanya memprogram skripsi dan satu mata kuliah saja, secara otomatif hanya ada satu mata kuliah saja dalam satu semester.
Namun dengan kesuksesan dalam perjalanan kuliah tidak menjadi jaminan lancarnya tahapan penyelsaian skripsi. Skripsi mempunyai sesuatu hal yang unik dan menjadi fenomena tersendiri. Meskipun bobotnya hanya 6 SKS, namun penyelasiannya sudah memakan waktu 3 semester. Bahkan sampai hari ini belum menunjukkan berakhirnya tahapan skripsi. Baru pelengkapan data saja, nanti dilanjutkan pembahasan.
Sebenarnya saya yakin bila semua saya kerjakan dengan maksimal dan mendapat ijin Allah, bisa diselesaikan tepat waktu sesuai dengan keinginan. Namun karena suatu kondisi yang mengharuskan saya seperti ini, dan atas ijin Allah saya belum bisa selesai bulan ini. Tapi ada keinginan kuat dalam diriku untuk segera menyelesaikan karya ini. Namun hanya sebuah keinginan saya rasa belum cukup ketika tidak dibarengi dengan aksi konkrit.
19 bulan bukanlah waktu yang singkat untuk berbuat dan menghasilkan sesuatu yang banyak manfaat. Demikian juga dalam perjalanan kepengurusan HMI Cabang Malang Komisariat Pertanian Universitas Brawijaya. Pada tanggal 14 April 2007 telah dilakukan pelantikan pengurus oleh Ketua Umum HMI Cabang Malang di Rumah Makan Ayam Lodho, Hj. Soetri. Banyak undangan yang hadir waktu itu. Mereka menjadi saksi betapa hebatnya kepengurusan waktu itu. Mereka percaya 101 % bahwa kepengurusan kali ini lebih baik dari kepengurusan sebelumnya.
Cerita itu benar terjadi dan banyak anggota yang menjadi saksi sejarah. Sejarah telah tercatat selama perjalanan kepengurusan yang telah berjalan selama 19 bulan. Saat ini sudah saatnya pengurus mempertanggungjawabkan apa yang telah menjadi kewajibannya. Moment Rapat Anggota Komisariat yang merupakan forum tertinggi di level Komisariat, salah satu agendanya ialah Laporan Pertanggungjawaban Pengurus. RAK dihadiri oleh Majelis Pengawas dan Konsultasi Pengurus Komisariat (MPKPK), pengurus dan seluruh anggota, baik anggota muda dan anggota biasa.
Untuk RAK kali ini, MPKPK ada dua yang bisa hadir dari
Saya dan Halim Kurniawan sebagai Steering Committee dari pengurus memilih Rhomsia Nur Kholifah, Sugeng Rianto dan Darmawan P. J. sebagai presidium tetap melalui mekanisme yang telah ditetapkan bersama forum. Sebenarnya RAK mempunyai banyak agenda, namun LPJ merupakan point of interest selain pemilihan formatur dan mide formatur. Agenda – agenda tersebut ialah salah satunya pembahasan GBPK, Rekomendasi – rekomendasi dan lain – lain masih banyak lagi yang lainnya.
Salah satu penilaian MPKPK yang disampaikan pada agenda pandangan umum ialah kaderisasi yang tidak berjalan sehingga tidak ada pengganti ketua umum. Namun saya rasa penilaian ini sangat subjektif MPKPK saja. Mungkin karena pengalaman yang mereka lalui.
MAHASISWA, ANTARA AKADEMIK DAN ORGANISASI
Joko Widodo 1).
Jati diri bangsa sangat ditentukan oleh kualitas sumber daya manusia (SDM) yang ada. Untuk itu diperlukan kader terbaik bangsa yang memiliki kecerdasan tinggi, sikap dan mental prima, daya juang dan daya saing tinggi, kemampuan handal, serta nasionalisme sejati. Salah satu elemen penting yang mempunyai peran vital dalam menunjang kualitas SDM bangsa ialah dunia mahasiswa dengan segala aktivitasnya.
Mahasiswa, akademik dan organisasi, kalimat ini memang sudah sangat singkron dan sudah begitu melekat untuk disandingkan menjadi elemen kata yang tidak bisa dipisahkan. Hal ini dikarenakan semua aktivitas kampus yang ada saat ini pasti ada kaitannya antara dunia akademik dan organisasi. Kampus merupakan kawah candradimuka bagi para mahasiswa sebagai insan kampus yang masih idealis yang akan menentukan kemajuan masa depan sebuah bangsa. Mahasiswa harus bisa memahami fungsi serta perannya. Mahasiswa sebagai insan akademis harus bisa menunjukkan keintelektualanya dibuktikan dengan prestasinya. Sedangkan mahasiswa sebagai insan pencipta dan pengabdi bisa ditunjukan dengan salah satunya aktif di organisasi. Karena dengan ikut organisasi jiwa – jiwa sosial, pengembangan soft skill akan terbentuk.
Namun dari dulu hingga sekarang ada stigma bahwa antara organisasi dan akademik tidak bisa berjalan bersama. Sehingga jika seorang unggul di bidang organisasi maka akademiknya akan kalah. Pun demikian sebaliknya jika seorang mahasiswa mempunyai IPK tinggi, jiwa organisasinya tidak jalan. Sebenarnya stigma tersebut terbentuk hanya berdasarkan kepada sedikit kasus aja. Terkesan subjektif dalam menyimpulkannya. Jadi stigma tersebut malah akan menjadi penghambat dari jiwa kreatifitas mahasiswa. Mahasiswa akan mandeg dan takut untuk berorganisasi. Mahasiswa yang sudah terlanjur ikut organisasi akan ogah belajar karena sudah terpatri dalam alam pikirnya bahwa tidak mungkin akan mendapat prestasi yang bagus betapapun hebatnya ihtiar yang dilakukan. Stigma di atas tidak benar adanya dan hanya menjadi alasan pembenar bagi orang – orang yang malas dan orang yang tidak mau berubah. Sudah banyak bukti di sekeliling kita bahwa mahasiswa bisa berprestasi dan unggul dalam organisasi secara bersamaan.
Menurut saya, dunia akademik dan organisasi merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Laiknya uang logam yang mempunyai dua sisi dimana masing – masing sisi menunjukan gambar dan menunjukan nilai nominal uang tersebut. Jika salah satu gambar atau nilai nominal dalam salah satu sisi uang logam tersebut hilang, maka secara otomatis uang tersebut tidak akan laku, berapapun nilai uang tersebut. Hal demikian berlaku juga di atmosfer kemahasiswaan. Ibarat menonton pertunjukan, IPK bisa dianalogikan dengan tiket masuk suatu pertunjukan dan kemampuan organisasi merupakan posisi yang akan ditempati. Apakah mendapat tempat kelas VIP ataukah kelas ekonomi.
Jadi kemampuan akademik merupakan suatu syarat mutlak sebagai parameter kualitas SDM. Kemampuan organisasi menjadi absolut dibutuhkan guna optimalisasi kinerja. Setiap orang ada zamannya, setiap zaman ada orangnya. Yang membedakan ialah momentum. Mari gunakan momentum ini sebaik – baiknya. Mahasiswa dianggap kelas elit yang kesempatan tersebut jarang diperoleh oleh anak bangsa lainnya. Jadikan momentum ini dengan berprestasi dan mengabdi pada bangsa.
1). - Presiden BEM FP UB periode 2007 – 2008
- Mahasiswa Berprestasi Utama IV Tahun 2007 Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya