Monday, October 27, 2008
Kehujanan aku tekat
Saturday, October 25, 2008
Friday, October 24, 2008
Temenku wisuda. . .
Thursday, October 23, 2008
Potongan Kue Pertama Ultah
Wednesday, October 22, 2008
Silaturrahmi ke Darul Hijrah
Pagi, sebelum berangkat ke Batu, saya ke kampus. Di sana saya bertemu dengan teman Pondok di Pesma Darul Hijrah. Sekarang dia sedang kuliah Double degree sedangkan saya masih berkutat di skripsi. Di sana juga ada teman yang satu angkatan dan banyak wajah yang saya kenal. Ngomongin keinginan setelah lulus dan sebagainya. Pilih kerja atau kuliah lagi? Kalau disuruh untuk memilih, saat ini saya pingin kuliah dulu. Kuliah di luar negeri langsung, kemudian setelah itu bekerja di instansi pemerintahan setelah itu pensiun dini untuk menjadi pengusaha dengan perusahaan yang padat modal. Semoga bisa tercapai.
Wah kalau gak cepat berangkat pasti nanti ku gak bisa pengamatan pikirku, maka aku lansung naik si Baron dan berangkat. Saya langsung ke kebun dan menghitung jumlah daun sebanyak 3 pohon. Istirahat di Mushola sampai ketiduran,,,Oiya ketemu juga dengan mahasiswa DI Hortikultura juga di sana. Mbak Erni, ya dia sebutkan nama itu. Tapi dia gak kenal saya. Emangnya siapa saya???heheheh...
Aku pulang sore hari dan silaturahmi ke pondok, di sana suasana keakraban tercipta. Ayem bahasa kerennya,,,tapi ustadznya tidak ada di rumah, jadi hanya ketemu dengan anak - anak. Diajak Rihlah ke Bale kambang. Entah bisa ikut atau tidak,,,Sudah 3 tahun berturut - turut saya tidak bisa ikut. Semoga tahun ini bisa.
Tuesday, October 21, 2008
Potong rambut
Habis itu saya langsung mandi dan pergi ke Cak Darwanto untuk Deposit pulsa. karena saat ini saya nyambi jualan pulsa elektrik dengan harga bersaing dengan counter - counter di luar.
Monday, October 20, 2008
Halal bi Halal
Jumlah daun berbuah kecelakaan
Sudah menjadi aktivitas saya sehari – hari bahwa saat ini saya harus pergi ke Batu untuk penelitian tentang apel. Meskipun awalnya penelitian ini dilakukan oleh team, namun akhirnya penelitian dilakukan sendiri – sendiri. Nah hal inilah yang membuat semua jadi berantakan saya kira. Suatu kegiatan kalau tidak direncanakan dengan matang maka jangan mengharap capaian yang maksimal, melainkan akan berbuah kekecewaan. Yang saya alami saat ini mungkin sama seperti itu. Dulu ketika saya anggap kerja team lebih mudah, tapi kenyataannya tidaklah demikian. Apakah mungkin disebabkan tidak adanya manajemen yang baik, ataukah kontrol yang kurang atau visi yang tidak jelas? Saya tidak akan menjadikan itu semua kambing hitam. Karena dengan demikian berarti kita merasa paling benar yang belum tentu itu benar. Karena kebenaran hanyalah milik Allah SWT.
Saat ini, sense of belonging dari tiap team untuk penelitian ini saya rasa kurang. Jadi saya merasa yang menyebabkan hal ini terjadi salah satunya ialah hal ini. Sudah berapa kali saya SMS tidak ada balasan. Kalaupun ada, jawaban tersebut akan membuat saya menghela napas panjang. Jawaban itupun dari satu teman saya, tapi yang satu malah gak ada balasan. Kalau ditelephone gak diangkat. Kalau diajak naik untuk menyelesaikan penelitian pasti ada saja alasan untuk gak bisa naik. Dari kerja, aktivitas lain, urusan keluarga, organisasi, bisnis dan lain – lainnya. Saya sampai bingung dibuatnya. Padahal kalau disadari penelitian ini ialah proyek dan harus dipertanggungjawabkan. Walaupun saya berprinsip bahwa penelitian saya ya penelitian, proyek ya proyek. Tapi saya berusaha profesional, saya juga harus mempertanggungjawabkan kepada yang mendanai saya, di samping itu saya juga harus mempertanggungjawabkan ke dosen pembimbing saya.
Melihat kondisi saat ini yang demikian maka saya beranikan diri untuk menghadap dosen pembimbing dan menceritakan keadaan yang sebenarnya, walaupun tidak seluruhnya. Karena aku takut beliau shock mendengarnya. Beliau menyarankan kepada saya untuk melanjutkan penelitian ini. Apapun kebutuhan yang diperlukan khususnya mengenai judul skripsi saya harus cepat dipenuhi. Jangan memikirkan team lagi, biar masing – masing bekerja sendiri. Beliau juga geleng – geleng kepala memikirkan hal ini. Bahkan beliau sempat menanyakan kepada saya, bahwa sebagai presiden BEM Fakultas Pertanian seharusnya saya bisa mengatur team ini. Wah, kenapa disangkutkan pada halkaya gini. Maka saya menjawab bahwa saya lebih mudah mengatur mahasiswa berjumlah seribu dibandingkan dua namun seperti ini. Pikirku, mungkin karena tidak ada pembagian tugas yang jelas serta tanggungjawab yang ngambang tak berarah kali ya. Maka sejak saat itu saya sering berangkat ke Batu sendirian. Meskipun saya sebelum saya berangkat, saya selalu SMS team saya, namun jawaban seperti biasa. Bahkan dulu pernah janjian jam 09.00 berangkat, akhirnya jam 15.00 baru berangkat, itupun saya tunggu di Batu dan saya sudah dapat sample daun dua kebun. Serting kali saya mengajak teman – teman saya, baik teman – teman pengurus BEM maupun teman – teman di HMI. Bahkan saya dipercaya untuk membawa si Baron. Jadi saat ini saya selalu dengan Baron kalau pergi. Saya bersyukur punya kawan – kawan seperti mereka.
Kejadian hari ini mungkin salah satu apes saya. Saya jatuh dengan Baron di jalan tikungan mau ke Dressel, Oro – oro Ombo di lereng gunung Panderman. Ceritanya seperti ini. Pagi tadi saya nguantuk sekali, meskipun bangun pagi. Rasanya males sekali kalau pergi ke Batu. Apalagi tidak ada temannya. Saya SMS team saya, malah masih TOEFL dan akan dikabari lagi nanti kalau sudah selesai. Tapi akhirnya tidak ada kabar sekali sampai habis isya tadi malam. Baru jam 09.15 saya berangkat. Saya mampir beli bensin di Tlogo Mas, meskipun gak terlalu antre kaya kemarin, namun hal ini juga menghambat meskipun antrenya sekitar 10 menit. Saya langsung menuju daerah Bumi Aji dan mencari petani di daerah sana. Akhirnya dapat lagi petani, bahkan ada 2 kebun. Saya langsung mengamati jumlah daun sendirian di tengah kebun dan hanya ditemani kicauan burung serta SMS. Sekitar pukul 14.15 saya baru turun dan menuju ke Dressel, ke kebun milik abang Otto. Nah di tengah perjalanan itulah tragedi jumlah daun berbuah kecelakaan terjadi. Di tikungan tajam, di bawah rimbunnya rumpun bambu. Saya jatuh dan kaki saya tertindih si Baron. Saya berpikir kaki saya patah. Walaupun saya memakai jaket dan celana, tapi tangan saya berdarah dan kaki saya juga buret walaupun sedikit. Tas dan jaket serta celana penuh dengan debu jadi tampak kotor. Banyak orang lewat yang menolong. Tapi akhirnya saya paksakan naik lagi karena masih bisa nyetir dan baron tidak kenapa – napa.
Di kebun saya harus menunggu lama, dan diberi Betadine. Niatan saya ialah ingin menambah data, namun apa daya kondisi tidak memungkinkan. Sangat lama saya nunggu, dan akhirnya saya bisa langsung ketemu dengan yang punya. Banyak ngobrol saya dan dia juga curhat tentang penelitiannya. Perlu diketahui yang punya kebun ini juga mahasiswa Hortikultura angkatan 2001. Saya diminta hati – hati. Setelah urusan kebun bang Otto beres, saya ke kebun pak Nasib. Kebetulan beliau yang sekaligus guru SD ini juga berada di kebun. Saya membayar panenan apel dan karena tidak ada kembalian, saya diajak ke rumah beliau. Di sana saya langsung akrab dengan cucunya, bahkan ketika saya pulang dan sudah naik motor, saya dipanggil ma cucunya itu. “Mas Joko!kapan – kapan maen lagi ya!” dengan wajah lugunya. Aku acungkan jempol dan kuanggukkan kepala dan aku jawab lirih “Iya dek!”. Benar – benar terharu dengan dia yang masih berumur sekitar 5 tahunan.
Di kontrakan sudah banyak panitia halal bil halal mempersiapkan spanduk untuk besok. Agenda besok ialah halal bil halal HMI Cabang Malang Komisariat Pertanian Universitas Brawijaya di Rumah makan ayam Lodho Hj. Soetri. Dengan halal bil halal ini, bisa dijadikan media kita untuk silaturrahmi. Semoga sukses selalu menyertai kita semua.
Friday, October 17, 2008
Jumat bersih. . .
Ketika hari ini saya harus memulai lagi aktivitas, ada saja kendala yang menghalang. Ligh meter yang mau saya pinjem rusak. Jadi mau gimana lagi dunk...
Stress hari ini pada diriku kentara banget. dari saya yang gak menemukan flashdisku yang ternyata saya bawa sendiri, terus setelah ngeprint, hasil nya tidak saya bawa ke kempus. Padahal sudah dibayar.
Saya membersihkan sekretariat BEM. Tapiu belum bisa membersihkan hati pengurus. Buktinya Sudah 2 minggu, sekretariat BEM tidak berubah sama sekali. Dari kotor ,menjadi tambah kotor.
Thursday, October 16, 2008
Aku survey sampai sore banget
Pagi sekali memang saya berangkat, di jalan ketemu Khafit yang lagi mau makan soto Lamongan Cak Ir. Dia menanyakan kok saya selalu sendirian bila pergi ke Batu. Saya jawab saja, teman saya sakit. Larena memang bilangnya seperti itu. Teman yang satunya lagi, saya jawab belum bisa naik karena lagi repot. dengan naik si Baron, saya telusuri jalan sepanjang Batu. Alhamdulillah saya dapat ketemu dengan mbak Luluk, Pak Slamet dan mas Amin. Mereka mau dijadikan objek penelitian.
Waktu di kebun mbak Luluk saya disalaki anjingnya, wah perjuangan berat banget...
Dengan pak Slamet saya harus nunggu selama 1,5 jam di rumahnya. Kemudian dia cerita perjuangan hidupnya waktu susah dulu. Lama banget, sekitar 2 jam.
Habis itu saya ke rumah mas Amin, dan saya harus datang ke banyak rumah untuk menemui mas Amin ini. Akhirnya sampai maghrib saya baru turun dari Batu.
Wednesday, October 15, 2008
Sunday, October 12, 2008
Laskar Pelangi
Thursday, October 09, 2008
Tuesday, September 30, 2008
Akhirnya sampai rumah juga
Di tengah perjalanan, saya dapat SMS dari nomor yang tidak saya kenal. Ada ajakan untuk buka bersama Alumni Pramuka SMUDA Ngawi. Tempatnya di Jalan. Rajawali Ngawi. Sesampainya di rumah dengan dijemput masku di depan tempat usahanya Badar, saya minta ijin untuk ikut berbuka di sana untuk menghadiri undangan tersebut. Dilema memang, di saat saya kangen rumah, pulang langsung ke rumah teman tanpa buka bersama keluarga dahulu. Banyak yang hadir memang, sekitar 35 orang ada di sana. Acaranya bagus, tapi sayang suasana kurang hidup. Karena di samping ada pengklusyteran angkatan juga ada jarak antara ihwan dan ahwat, jadi tidak seakrab jaman saya aktif Pramuka dulu. Ada Intan dan saya sapa "Intan, apa kabar?" E..dia malah jawab "Kok manggilnya gak pakai Dek??..Iya kabar baik"Bercanda atau tidak saya gak ngerti. Takutnya menimbulkan salah paham.
Saya tidak langsung sholat terawih, karena tempat yang gak memungkinkan. Maka saya ngopi dengan Mbah Mad, Hery/Jack dan Arwig. Setelah dapat beberapa lama disusul Kemal, Dodi dan Mahful (Angkatan 10 yang nantinya dibaiat menjadi angkatan 7). Akhirnya kami kembali ke acara setelah jam 20.00. Di sana acara juga kurang hidup seperti semula. tidak ada acara saling kenalan dan hal ini yang membuat pengklusteran angkatan semakin kuat.
Setelah selesai, kami angkatan 7 dan Mahful ngopi di alun-alun terbesar se Jatim, Ngawi. Ngopi di pojok alun - alun terus pindah di depan LP. Sampai Sahur kami ngobrol di sana.
Hari ini pas dengan hari pasaran yaitu Legi, Ya tepatnya hari Selasa Legi. jadi pasar sangat rame, apalagi bareng dengan "prepekan" atau hari terakhir pasar karena besok sudah lebaran. Saya bisa ngenet di sini juga.
Paron - Ngawi, 30 September 2008
Sunday, September 28, 2008
Sahur dan mudik sendiri
Untuk mudik,,,,
Saturday, September 27, 2008
Sendirian di kontrakan
Friday, September 26, 2008
Suasana kampus
Menjadi pemateri di Oryza FM
Kemenangan yang sebenarnya ialah melestarikan nilai-nilai Ramadhan
Oleh : Joko Widodo*
Berakhirnya bulan Ramadhan memunculkan dua perasaan sekaligus, yakni sedih dan gembira. Sedih karena Ramadhan terasa begitu cepat berlalu, padahal belum banyak rasanya amal shalih yang kita lakukan, belum banyak shadaqah yang kita berikan, belum banyak ayat-ayat Qur’an yang kita lantunkan, dan belum banyak sujud yang kita kerjakan. Padahal, tahun depan belum tentu kita bisa berjumpa kembali dengan Ramadhan yang mulia ini. Siapa yang bisa memberikan jaminan, bahwa Ramadhan dan Idul Fitri tahun depan Malaikat maut tidak datang menjemput kita? Siapa yang bisa memberikan kepastian bahwa ajal kita tak kan tiba mendahului Ramadhan dan Idul Fitri tahun depan ?
Bulan Syawal ialah saatnya kita kembali pada fitrah kita, kembali pada kesucian kita. Kita dilahirkan dalam keadaan fitrah, suci dan cenderung pada kebenaran yang hakiki. Akan tetapi, setelah kita menginjak dewasa, pergaulan kita semakin luas, kebutuhan hidup kita semakin banyak, angan-angan kita semakin menerawang, jiwa yang suci tadi terkontaminasi dengan virus-virus kemaksiyatan, dengan debu-debu dosa kepada Allah. Semua anggota tubuh kita memberikan kontribusi dalam berbuat dosa. Lisan kita, berapa banyak orang yang telah tersakiti oleh lidah kita ? Mata kita, berapa banyak pendangan haram yang telah dilakukan oleh mata kita? Hati kita, berapa banyak penyakit hati telah bersemayam dalam hati kita, seperti iri, dengki, buruk sangka, sombong, dsb? Tangan kita, berapa banyak dosa yang telah dilakukan akibat tangan kita.
Ramadhan sebagai lembaga pendidikan istimewa bagi orang beriman. Bagi orang beriman, Ramadhan merupakan training center atau kawah candradimuka, tempat penggemblengan jiwa agar menjadi pribadi yang paripurna. Selama satu bulan, kita dilatih untuk melakukan pensucian jiwa melalui tarbiyah dengan nilai-nilai Ramadhan yang diharapkan dapat kita jadikan bekal untuk memasuki 11 bulan yang akan datang. Otak kita dibersihkan, emosi kita dicerdaskan, spiritual kita dicerahkan, dan religiusitas kita dimantapkan. Hal itu tidak lain untuk mengantarkan kita sebagai insan muttaqin (manusia bertaqwa), sebagaimana dinyatakan Allah dalam Qs Al Baqarah: 183 yang sudah sangat popular setiap bulan Ramadhan.
Dalam agama kita, taqwa adalah ultimate goal seluruh rangkaian peribadatan: perintah shalat, ujungnya adalah taqwa, perintah zakat ujungnya adalah taqwa, perintah puasa ujungnya adalah taqwa, perintah haji ujungnya adalah taqwa. Taqwalah yang menentukan posisioning kita di hadapan Allah Yang Maha Agung, bukan harta kita—seberapa banyak pun harta yang kita miliki, bukan gelar akademik kita, seberapa hebat dan panjang pun gelar kita, bukan jabatan kita, seberapa tinggi pun kedudukan kita, bukan pula afiliasi kepartaian kita, apapun partai yang kita anut. “Inna aqramakum ‘indallahi atqaa kum” (Sesungguhnya orang yang paling mulia di sisi Allah adalah orang-orang yang bertaqwa” (QS Al Hujurat: 13). Begitu pentingnya taqwa, sampai Nabi berwasiat agar kita menjaga ketaqwaan, di manapun kita berada “Ittaqullah, khaitsumma kunta” (Bertaqwalah kepada Allah, di manapun kalian berada).”
Bulan ramadhan boleh berlalu, tetapi satu hal tidak boleh meninggalkan kita dan harus tetap bersama kita, yaitu spirit dan moralitas shiyamu ramadhan. Inilah yang harus mangisi sebelas bulan ke depan dalam perjalanan hidup kita, sebagai pribadi, keluarga, warga masyarakat, ummat dan bangsa. Prestasi yang kita capai dengan ‘ibadat ramadhan hendaklah kita jadikan modal untuk meraih “shiyamuddahri” , yakni nilai, pahala serta kebaikan puasa sepanjang masa. Agar hidup kita tidak pernah lepas dari keberkahan, dari maghfirah dan rahmat Allah SWT.
Dalam rangka meraih nilai shiyauddahri itu maka Rasulullah saw menganjurkan ummatnya untuk melanjutkan shiyamu ramadhan dengan puasa sepekan di bulan syawal. Sebagaimana sabda beliau:
( Ù…َÙ†ْ صَامَ رَÙ…َضَان Ø«ُÙ…َّ Ø£َتْبَعَÙ‡ُ سِتًّا Ù…ِÙ†ْ Ø´َÙˆَّالٍ Ùƒَانَ ÙƒَصِÙŠَامِ الدَّÙ‡ْر )
“Barang siapa menunaikan shiyamu ramadhan dan diikuti puasa enam hari pada bulan syawal, maka nilainya seperti puasa sepanjang masa” (HR Muslim)
Adapun akhlaqiyah atau nilai-nilai moralitas Ramadhan yang penting untuk tetap dipertahankan pasca ramadhan adalah sbb:
- Suasana Religius
Suasana yang bernuansa agama selama Ramadhan sangat terasa, baik di rumah kita, di lingkungan kita, di masjid kita dan bahkan di televisi kita. Cobalah lihat, masjid, mushola dan surau jamaahnya penuh saat Ramadhan. Kita yang sebelum ramadhan jarang berjamaah shalat di masjid, saat Ramadhan ringan betul melangkahkan kaki bersama anak-anak ke masjid. Karena itu, meski Ramadhan telah berlalu, mari tetap kita hidupkan masjid-masjid kita dengan melestarikan shalat berjamaah di masjid.
- Kemampuan mengendalikan diri
Esensi dari puasa (ash-shiyam) adalah al-imsak, yang artinya mengendalikan diri. Kemampuan pengendalian diri ini merupakan kunci sentral terwujudnay tatanan yang baik dalam masyarakat. Sebaliknya, kegagalan mengendalikan diri dari godaan nafsu syaitan, akan meninimbulkan berbagai masalah dalam kehidupan. Seorang penguasa yang gagal mengendalikan dirinya, akan menyalahgunakan kekuasaannya. Tidak heran KKN, masih marak di negeri yang mayoritas muslim ini. seorang pebisnis yang gagal mengendalikan diri akan melakukan berbagai cara pintas untuk meraih keuntungan sebanyak-banyaknya, meskipun merugikan orang lain dan melanggar nilai-nilai agama. Seorang remaja yang gagal mengendalikan diri dalam pergaulanmnya, akan terjebak dalam pergaulan bebas yang merusak moralitas dan masa depannya. Pelajaran pengendalian diri selama puasa Ramdahan hendaklah kita hidupkan setelah Ramadhan usai.
- Kesadaran akan pengawasan Allah (ma’iyatullah).
Saat kita sendirian di suatu tempat yang tidak ada orang lain melihat, kita sebenarnya bisa saja makan atau minum dan kemudian berpura-pura puasa kembali. Tidak ada orang yang tahu. Akan tetapi hal itu tidak dilakukan karena orang-orang yang berpuasa sadar akan kebersamaan Allah dalam hidupnya (ma’iyatullah). Meskipun orang lain tidak melihat, tetapi kita sadar bahwa Allah melihat kta. Berbagai penyelewengan yang terjadi dalam masyarakat, termasuk korupsi dan kolusi, dikarenakan tidak adanya kesadaran pelakunya bahwa Allah melihat perbuatan dan tingkah lakunya. Mereka merasa aman dapat merekayasa agar orang lain tidak tahu, agar terbebas dari pemeriksaan auditor. Padahal ada auditor Yang Maha Agung dan Maha Melihat yang mengawasi dan mengetahui seluruh perbuatan mereka.
Sifat ini telah disebutkan di dalam banyak tempat dalam Al-Quran. Di antaranya, firman Allah:
“Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas ´arsy. Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar darinya dan apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepadanya. Dan dia bersama kamu di mana saja kamu berada, dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. (Al-Hadid: 4)
Inilah sikap ikhsan. Kalau sikap ini kita lestarikan pasca Ramadhan, khususnya oleh politisi, pejabat public dan pelaku bisnis, insya Allah berbagai penyimpangan yang terjadi akan bisa diminimalisir.
- Al shidqu yakni kejujuran.
Dimensi kejujuran dalam puasa sangat ditekankan. Kejujuran merupakan bukti paling niscaya bahwa seseorang dalam suasana taqwa. Sebagaimana firman Allah:
ÙŠَا Ø£َÙŠُّÙ‡َا الَّذِينَ Ø¢َÙ…َÙ†ُوا اتَّÙ‚ُوا اللَّÙ‡َ ÙˆَÙƒُونُوا Ù…َعَ الصَّادِÙ‚ِينَ (التوبة :119)
“Wahai orang-orang yang beriman bertaqwalah kepada Allah, dan pastikanlah kamu sekalian bersama orang-orang yang jujur”
Kejujuran adalah gerbang menuju segala kebaikan, sedangkan ketidak jujuran akan membawa kepada pelbagai penyimpangan dan kejahatan. Orang harus berlatih untuk jujur, sekali dua kali tiga kali dan seterusnya, sehingga ia dicatat oleh Allah sebagai pribadi yang jujur (AL SHIDDIEQ). Kemudian telah ada jaminan dari Allah, bahwa orang jujur akan mujur, sedang yang tidak jujur cepat atau lambat akan hancur. Bukti empirik telah begitu banyak membenarkan korelasi ini.
5. Al tathahhur yakni membersihkan diri
Ramadhan adalah bulan suci, dan bagi yang menjalankannya dengan baik akan membersihkan dirinya dari segala noda dan dosa, sebab sebulan penuh orang yang puasa menjalani proses pembersihan yang menyeluruh. Hanya dengan cara demikian puasa seseorang diterima, dan do’anya dikabulkan. Kemudian bersama ‘idul fithri sepenuhnya kembali kepada kondisi fithrah. Adalah penting kita ingatkan kepada diri, janganlah apa yang sudah suci kita nodai lagi, sikap perilaku yang sudah bersih jangan kita kotori lagi.
Penghasilan yang sudah halal dan thayyib jangan sampai kita campuri lagi dengan yang remang-remang (syubhat) apalagi yang jelas-jelas haram. Puasa ramadhan melatih kita bersabar dan kuat menahan lapar, dan menegaskan bahwa kita tidak akan pernah kuat menahan panasnya api neraka.
6. Al mujahadah, membanting tulang
Dalam keadaan lapar dan dahaga shiyamu ramadhan memacu insan beriman untuk lebih giat lagi melakukan aktifitas taqarrub ilallah seperti shalat, tilawatil quran dan kegiatan yang bemanfaat bagi kehidupan sosial, seperti shilaturahim, infaq shadaqah, mengajarkan ilmu, memberi makanan berbuka bagi yang puasa, bahkan berjihad di jalan Allah menumpas pelbagai bentuk agresi terhadap Islam dan ummat Islam. Wajarlah sejarah mencatat di antara hasil mujahadah ramadhan berupa kemenangan gemilang di perang badar pada tahun ke-2 Hijriyah, pembebasan Makkah (fathu Makkah) pada tahun ke-6 Hijriyah, dan kemenangan perang Amoria yang meluluh lantahkan pasukan Romawi di Byzantium pada tahun 214 H pada masa Al Mu’tashim Billah. Memang semangat ramadhan adalah semangat juang untuk meraih pelbagai kemenangan.
7. Mempertahankan surplus spiritual (Al faidhu wal insyirah)
Shiyamu ramadhan mendidik surplus spiritual dan moral, menjaga diri agar tidak terjebak pada kekerdilan jiwa dan kenihilan moral. Mendidik para shaimin untuk mengokohkan jiwanya serta melapangkan dadanya. Dengan menegaskan pada dirinya “inni shaimun” aku ini sedang puasa, ia mampu menggagalkan setiap provokasi negatif yang akan merusak hubungan sosial menjadi konflik yang menghancurkan semua pihak. Bahkan semakin surplus jiwanya insan puasa yang telah memantapkan statusnya sebagai “’ibadurrahman/hamba Allah yang Rahman” sanggup membalas hal-hal yang buruk dengan kebaikan, tarikan negatif dengan ajakan yang positif. Ketika orang-orang jahil yang sedang jadi hamba syetan atau hawa nafsunya menyerang dengan ucapan yang tidak baik, maka hamba Arrahman membalasnya dengan do’a keselamatan.
Semoga dari uraian sedikit ini bisa menambah ketaqwaan kita. Amin
